Gema dari Pinggiran

 


Gema dari Pinggiran: Cahaya di SMAN 1 Tapaktuan

Debu jalanan lintas kabupaten masih terasa menempel di seragam putih abu-abu lima siswi yang duduk tegap di dalam minibus tua itu. SMAN 1 Kluet Timur, sebuah nama yang sering kali hanya dianggap sebagai pelengkap dalam daftar hadir perlombaan tingkat kabupaten Aceh Selatan, hari ini meluncur menuju pusat kota. Tapaktuan, kota naga yang megah dengan barisan sekolah-sekolah unggulannya, menjadi saksi bisu betapa kecilnya nyali yang tersisa di hati para kontingen dari sekolah pinggiran itu. SMAN 1 Tapaktuan, sang tuan rumah yang tersohor, telah bersiap menyambut festival seni paling bergengsi tahun ini: FLS3N.

Di dalam mobil, suasana begitu hening, hanya deru mesin yang kepayahan menanjak bukit yang terdengar. Fatma Nurul Hidayah memeluk tas yang berisi laptop erat-erat, seolah di dalamnya tersimpan seluruh harga diri sekolah mereka. Di sampingnya, Dara Ikhwani menatap jemarinya yang masih menyisakan bekas lem dari karya kriya yang ia kerjakan hingga larut malam. Sementara itu, Maulida Sari sesekali komat-kamit melatih vokal untuk cabang baca puisi, meski suaranya nyaris tenggelam oleh suara angin yang masuk dari celah jendela. Di kursi belakang, Mahya Fissa Ardhianti dan Jannatul Ikrifa lebih banyak diam. Mahya sibuk dengan lembar-lembar draf cipta puisinya, sedangkan Jannatul menatap keluar jendela, mengamati pegunungan yang hijau, mencari inspirasi terakhir untuk cerpen yang akan ia susun sebentar lagi.

Pagi itu, kompleks SMAN 1 Tapaktuan sudah riuh. Bus-bus sekolah dari sekolah unggulan terparkir rapi. Siswa-siswi dari SMA Unggul Negeri Tapaktuan dan SMA N 1 Kluet Selatan tampak percaya diri dengan almamater mereka yang mentereng. FLS3N tahun ini diikuti oleh 14 cabang lomba, dan SMAN 1 Kluet Timur datang sebagai underdog sejati. Mereka adalah tim yang tidak diperhitungkan, sekolah yang lokasinya jauh di pelosok, yang sering kali harus berjuang dengan fasilitas seadanya untuk bisa sekadar mengirimkan perwakilan.

“Ingat, anak-anak, tampilkan saja yang terbaik. Menang atau kalah itu urusan belakang,” ujar Ibu Rahmatisnaini mencoba memecah ketegangan saat mereka turun dari mobil. Namun, sorot matanya tidak bisa berbohong. Ada sedikit rasa pesimis yang menyelinap. Ia bertukar pandang dengan guru pendamping lainnya, Ibu Riva Alvira, Ibu Kasmiati, dan Ibu Marlina. Mereka tahu betul petanya. Selama bertahun-tahun, panggung juara selalu menjadi milik sekolah-sekolah di pusat kota. Sejarah seolah telah menuliskan bahwa mereka hanyalah penggembira yang datang untuk memberi selamat kepada sang juara dari kota.

Waktu merayap lambat di bawah terik matahari Tapaktuan. Perlombaan dimulai secara serentak di berbagai sudut sekolah. Dara bergelut dengan bahan-bahan alam untuk kriyanya, mencoba menuangkan estetika dari akar budaya Kluet. Di ruang kelas yang sunyi, Mahya menuangkan jiwanya ke dalam sebait puisi, sementara Jannatul merangkai kata demi kata, membangun dunia dalam cerpennya. Di Lab komputer, Fatma membentangkan imajinasinya dalam laptopnya, dan di panggung utama, suara Maulida Sari menggema membacakan bait-bait yang menggetarkan udara.

Namun, di luar ruangan lomba, suasana jauh lebih suram. Bapak-bapak guru pendamping, Pak Bustanul Huda, Pak Hasbuna, dan Pak Awaluddin memilih untuk duduk di area parkiran yang agak menjauh dari keramaian. Mereka menyesap kopi dari plastik dengan wajah yang ditekuk. “Paling-paling ya seperti tahun-tahun yang sudah, Pak. Kita pulang dengan tangan hampa. Anak-anak kita kalah fasilitas, kalah jam terbang,” gumam Pak Hasbuna sambil menghela napas. Pak Awaluddin hanya mengangguk pelan, sementara Pak Bustanul sibuk memandangi spanduk besar acara tersebut dengan tatapan pasrah. Mereka sudah yakin tidak akan dapat juara lagi seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.

Sementara itu, Pak Mushadi, sang Kepala Sekolah, memilih untuk tidak bergabung dengan para guru di parkiran maupun di dalam aula. Beliau berdiri di pojok-pojok pelataran sekolah, bersandar pada tiang beton yang dingin. Matanya menatap ke arah kerumunan peserta, namun pikirannya melayang jauh. Beliau hanya diam, tidak banyak bicara. Ada gurat kelelahan dan harapan yang tersamar di wajahnya. Tatapannya tidak bisa diartikan seolah-olah sedang memendam beban yang sangat berat, antara kepasrahan dan doa yang tak putus-putus.

Sore hari pun tiba. Matahari mulai condong ke ufuk barat, menciptakan bayangan panjang di lapangan SMAN 1 Tapaktuan. Saat yang paling mendebarkan pun tiba: pengumuman pemenang. Seluruh peserta dari berbagai sekolah berkumpul di depan panggung utama. Panitia mulai membacakan hasil dari 14 cabang lomba secara bergantian.

“Juara ketiga cabang Poster... SMAN 1 Tapaktuan!” “Juara ketiga cabang Kriya... SMA N 1 Kluet Selatan!”

Satu per satu juara ketiga diumumkan. Tidak ada satu pun di antara lima siswi SMAN 1 Kluet Timur yang dipanggil. Bahu para guru pendamping semakin merosot. Ibu Riva, Ibu Kasmiati, dan Ibu Marlina sudah mulai berbisik tentang rencana pulang lebih awal. Di parkiran, para bapak guru sudah bersiap-siap di dekat mobil, yakin bahwa hari ini berakhir sama seperti sebelumnya.

Berlanjut ke pengumuman juara kedua. Ketegangan meningkat, namun pola pemenang masih sama. Dominasi sekolah-sekolah unggulan begitu terasa. Tuan rumah, SMA Unggul Negeri Tapaktuan, dan SMA N 1 Kluet Selatan silih berganti naik ke podium. Nama SMAN 1 Kluet Timur masih belum juga terdengar.

Lalu, suasana mendadak hening sejenak. MC menarik napas panjang untuk membacakan daftar juara pertama. Ini adalah kasta tertinggi, tiket menuju tingkat provinsi.

“Dan sekarang, Juara Pertama cabang Cipta Puisi FLS3N tingkat Kabupaten tahun ini... Selamat kepada... Mahya Fissa Ardhianti dari SMAN 1 Kluet Timur!

Hening. Sedetik, dua detik, seolah waktu berhenti berputar. Ibu Rahmatisnaini yang tadinya duduk lesu, tiba-tiba melonjak berdiri. “APA?!” teriaknya spontan. Suaranya yang melengking memecah keheningan lapangan. “MAHYA! ITU MAHYA! KITA JUARA SATU!” Teriakan itu diikuti oleh histeria Ibu Riva, Ibu Kasmiati, dan Ibu Marlina. Mereka tidak percaya, namun nama itu terpampang nyata.

Belum sempat euforia itu mereda, MC kembali mengumumkan, “Selanjutnya, Juara Pertama cabang lomba Cerpen... jatuh kepada... Jannatul Ikrifa dari SMAN 1 Kluet Timur!

Kali ini, seluruh kontingen 'sekolah terpinggir' itu benar-benar meledak dalam kegembiraan. Seluruh guru dan peserta dari Kluet Timur bersorak-sorai. Fatma, Dara, dan Maulida yang belum sempat juara, justru berlari paling kencang memeluk kedua teman mereka. Mereka menangis, tertawa, dan melompat di tengah kerumunan siswa sekolah unggulan yang kini menatap mereka dengan takjub.

Di pojok pelataran, Pak Mushadi tidak lagi diam. Beliau menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang hebat. Sang Kepala Sekolah menangis sesenggukan, air mata keharuan mengalir deras. Inilah jawaban atas tatapan kosongnya seharian tadi. Inilah kemenangan martabat sekolahnya.

Mendengar sorakan yang tak biasa, Pak Bustanul, Pak Hasbuna, dan Pak Awaluddin berlari tunggang-langgang dari parkiran. Mereka tertegun melihat rekan-rekan guru mereka menangis sambil berpelukan. Begitu mendengar kabar kemenangan ganda itu, ketiga bapak-bapak itu saling berangkulan erat. Kebanggaan itu menyapu bersih rasa pesimis mereka.

Sore itu, SMAN 1 Tapaktuan menjadi saksi sejarah baru. SMAN 1 Kluet Timur pulang tidak hanya membawa dua piala emas, tetapi membawa sebuah pembuktian besar: bahwa gema dari pinggiran pun bisa mengguncang pusat kota jika dibarengi dengan ketulusan dan kerja keras. Di bawah langit Aceh Selatan yang mulai memerah, mereka pulang sebagai pahlawan. Pak Mushadi berkata di saat kontingen berkumpul mau pulang di parkiran “ini merupakan sejarah, ini semua berkat anak-anak semua, guru guru pembimbing dan seluruh doa warga sekolah, Sekarang sekolah kita”

"Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat sore rekan-rekan pendidik SMAN 1 Kluet Timur. Berita membahagiakan baru saja tiba dari arena FLS3N di SMAN 1 Tapaktuan! Alhamdulillah, sekolah kita berhasil membawa pulang Juara 1 Cipta Puisi dan Juara 1 Menulis Cerpen! Terima kasih atas doa dan dukungannya." Pesan ibu kas di grup tersebut

Seketika meluncur ucapan selamat dari berbagai guru mata pelajaran dan tenaga kependidikan dan di tutup oleh pesan bapak kepala sekolah “"Terima kasih Bapak/Ibu guru dan TU semua atas doanya. Tangis haru kami di lapangan tadi adalah untuk kita semua, untuk SMAN 1 Kluet Timur. Mohon doa restunya untuk ananda kita yang akan berlanjut ke tingkat Provinsi. Amin."

Post a Comment

أحدث أقدم